Sabtu, 03 Maret 2012

Hukum DM dan hukum MD

Saking cintanya terhadap bahasa Indonesia, pada masa pemerintahan mantan Presiden Soeharto, ada gerakan pengindonesiaan istilan-istilah asing, papan reklame, dan merek-merek dagang. Para pemilik usaha pun ramai-ramai mengindonesiakan nama badan usaha mereka yang tadinya berbahasa asing menjadi bahasa Indonesia.

Beberapa merek kemudian diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata berbahasa asing seperti bakery dan laundry diterjemahkan menjadi bakeri dan laundri.

Sekilas memang kelihatannya papan-papan nama itu berbahasa Indonesia. Namun ada yang lupa diperhitungkan oleh pemerintah pada saat itu, yaitu mengganti nama tanpa disertai penggantian struktur bahasanya. Akibatnya, yang terjadi, Holland Bakery berubah menjadi Holland Bakeri. Dan banyak lagi papan reklame yang seperti itu, yang menggunakan kata Indonesia, tetapi strukturnya bahasa Inggris.

Yang terjadi selanjutnya tampaknya semakin parah. Merek-merek dagang berbahasa Indonesia pun ikut-ikutan menggunakan struktur bahasa Inggris ini. Jika kita pergi ke pameran kerajinan Indonesia, misalnya. Berderet-deret kita lihat nama-nama stan yang memiliki struktur seperti itu, misalnya Zainal Songket, Arni Batik, dan sebagainya.

Dulu kita mengenal struktur ini dengan hukum DM (Diterangkan Menerangkan) dan MD (Menerangkan Diterangkan). Ih, jadul banget, ya! J

Apa itu DM dan MD?

Pada saat pelajaran struktur bahasa Indonesia ini, murid-murid asing saya selalu mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang logis. Artinya, bagian yang lebih penting didahulukan, bagian penjelasnya dikemudiankan. Itulah hukum DM. Bagian utama (bagian yang Diterangkan) diberikan informasi tambahan oleh bagian penjelasnya (bagian yang Menerangkan bagian utama).

Jika kita bicara tentang sebuah lemari, kita menyebutkan lemari terlebih dahulu, baru kemudian informasi tambahan mengenai lemari itu, misalnya lemari kaca, lemari besi, dan sebagainya.

Jika kita ingin pergi ke bengkel milik Adi, kita mengatakan Saya mau ke bengkel Adi. Adapun jika kita ingin menemui Adi yang memiliki bengkel, kita mengatakan Saya mau ke Adi Bengkel. Ya, mungkin saja Anda memiliki banyak teman yang bernama Adi, bukan?

Bagian inilah yang sulit bagi para penutur bahasa Inggris yang mengenal struktur MD jika mereka belajar bahasa Indonesia. Akibatnya, mereka selalu menerjemahkan my monkey dengan saya monyet!

Lalu bagaimana dengan kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih?

Tidak berbeda dengan kelompok yang terdiri atas dua kata, bagian yang lebih menjelaskan bagian utama disebutkan terlebih dahulu.

Jika kita mengatakan baju milik ibu, urutannya menjadi baju ibu-saya, karena itu adalah baju ibu dan bukan baju saya. Jika diperluas lagi dapat menjadi baju baru ibu-saya. Intinya tetap sama, yakni baju.

Pertanyaan saya, bagaimana dengan The Plaza Semanggi? Ada yang aneh? Tolong jawab, yaa… 

Tidak ada komentar: